.: Column :.
16 Feb : Kelaparan
25 Mei : Motivasi
.: Column :.
 1 2 3 >  Last ›
10 September 2020

Keterkaitan langsung antara pertanian pangan dan kualitas generasi mendatang Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel terdahulu telah disampaikan betapa pentingnya R&D sebagai pembuka jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dalam hubungan ini, pada jurnal Eurasia J. Math.Sci.&Tech;.Ed., 12 (4), 965-974, kita bisa membaca bahwa R&D berkorelasi positif dengan IQ, dengan nilai koefisien korelasi yang cukup besar yaitu 0.762. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa R&D penting untuk mencerdaskan kita semua. Gambar 1. Hubungan antara stunting dengan konsumsi daging sapi, daging babi, daging ayam dan daging domba ( OECD, 2018 dan UNICEF-WHO-World Bank, 2017). Pada artikel ke-19 ini secara khusus disampaikan hubungan antara stunting dan konsumsi pangan yang berasal dari hewan. Agar kita bisa lebih merasakan fakta yang terjadi dengan stunting itu merupakan hal yang kritis dan merasakan juga bahwa peternakan dan perikanan merupakan kegiatan sosial-ekonomi yang penting untuk generasi yang akan datang, maka gambaran hubungan stunting dan tingkat konsumsi pangan yang bersumber dari peternakan seperti ikan, daging, daging ayam dan telur, dari pelbagai negara perlu dipandang sebagai input yang penting. Faktor-faktor dan proses yang mempengaruhi stunting cukup kompleks. Namun demikian, hasil banyak penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama mewabahnya fenomena stunting adalah rendahnya tingkat konsumsi pangan yang bersumber dari ternak. Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat konsumsi pangan bersumber dari peternakan maka semakin rendah tingkat stunting anak-anak balita di suatu negara. Indonesia, dalam Gambar 1 tersebut, dengan tingkat konsumsi pangan yang bersumber dari peternakan hanya 10 kg per kapita lebih sedikit, menderita stunting lebih dari 30 persen. Dapat dibayangkan 3 dari 10 orang anak balita kita menderita stunting. Ini merupakan tragedi di era milenial.

10 September 2020

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel sebelumnya telah disampaikan gambaran R&D korporasi secara umum dan R&D di bidang pertanian. Pada artikel ke-18 ini disampaikan gambaran R&D Indonesia di lingkungan ASEAN dan negara-negara Asia-Pasifik.

10 September 2020

Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com Seperti Apa Gambaran ROI dari R&D Pertanian? TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel ke-16 disampaikan gambaran ROI R&D pada kasus korporasi besar dunia secara umum. Distribusi dana R&D terbesar berada pada tiga sektor utama yaitu teknologi, farmasi dan bioteknologi serta otomobil & komponen dengan masing-masing besaran dana R&D mencapai USD 268.8 milyar, USD 160.7 milyar, USD dan 143.9 milyar. Kontribusi ke tiga sektor tersebut mencapai 66.8 persen dari total R&D keseluruhan korporasi. Apabila rasio jumlah pendapatan korporasi terhadap dana yang dialokasikan untuk R&D dibaca sebagai indikator kasar untuk mendapatkan nilai ROI dari R&D maka kita akan mendapatkan gambaran dari kelompok korporasi dunia yang menanamkan uangnya mencapai R&D Intensity lebih dari 10 persen, mendapatkan ROI dari R&D yang berada pada selang 383.8 persen hingga 995.4 persen (https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-tokoh/14393-Kemerdekaan-bagi-Petani-Kemerdekaan-bagi-Kita-Semua-16-Seperti-Apa-Gambaran-ROI-dari-Riset). Artinya, ROI R&D sangat tinggi.

10 September 2020

Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel ke-15 disampaikan bahwa kegiatan R&D perlu dipandang sebagai suatu investasi. Dengan memandangnya sebagai suatu investasi maka hal-hal yang berkaitan dengan investasi menjadi bagian integral yang perlu menjadi landasan dalam menyusun perencanaan, rancang bangun, organisasi, serta pembiayaan dari suatu R&D. Satu di antara banyak aspek yang perlu menjadi landasan dalam keputusan investasi dari R&D adalah kriteria pengembalian dari investasi yang ditanamkan yang sering dinamakan Return of Investment (ROI) dari program R&D yang akan dikembangkan. Hasil penelitian ROI dari R&D sudah banyak dikembangkan dan sudah menjadi cabang keilmuan tersendiri. Namun demikian, investasi dalam hal R&D, khususnya bagi perusahaan-perusahaan besar di negara berkembang dan juga bagi negara-negara berkembang dalam upaya pembangunannya, masih dikatakan merupakan hal yang belum menjadi kebijakan prioritas. Oleh karena itu, mungkin kita perlu lebih sering menyampaikan informasi terkait manfaat akan R&D ini, yang telah terbukti menjadi solusi kemajuan negara-negara atau bangsa-bangsa sejak zaman dahulu kala. Peran korporasi dan negara menempati tempat yang bersifat komplementer-suplementer dan sinergis yang sangat penting. Sejarah mencatat bahwa Renaissance di Eropa dimulai oleh hadirnya peran konglomerat Italia, keluarga Medici di Italia. Keluarga ini memotori perubahan sosial budaya dari zaman gelap Eropa ke zaman baru yang dinamakan Renaissance. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai output dari kemajuan dalam sistem R&D ternyata berkaitan juga dengan perkembangan sistem demokrasi suatu negara. Kita menyaksikan migrasi pusat-pusat ilmu pengetahuan dari Timur Tengah, India dan China pada masa pra-Renaissance, berpindah ke Eropa, dan kemudian berpindah lagi ke Amerika Serikat pada zaman revolusi industri. Region Asia Timur kelihatannya sekarang sedang menyiapkan diri untuk menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi juga. Jadi, sejarah sebagai data menunjukkan bahwa tidak ada pilihan lain kecuali memajukan institusi riset dan institusi politik negara yang mendukung proses kemajuan riset tersebut.

10 September 2020

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel ke-14 disampaikan kesimpulan bahwa kemajuan suatu bangsa atau negara ditentukan oleh budaya riset yang dimilikinya. Headrick (1996) menemukan Malaysia sebagai satu-satunya negara yang berada di kawasan tropika yang telah melakukan investasi dalam riset di bidang pertanian dengan tingkat nilai investasi per kapita dibidang ini melebihi investasi per kapita Amerika Serikat. Sedangkan dalam ukuran jumlah peneliti di bidang pertanian per satu juta penduduk ternyata ukuran ini juga hanya sedikit di bawah jumlah peneliti per satu juta penduduk Amerika Serikat. Headrick menyimpulkan bahwa untuk mengatasi persoalan suatu negara kuncinya ada pada riset. Secara lebih lengkap uraian artikel ke-14 dapat diakses pada https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-tokoh/14338-Kemerdekaan-bagi-Petani-Kemerdekaan-bagi-Kita-Semua-14-Mengapa-Malaysia-bisa-lebih-maju Dunia riset di Indonesia bukanlah hal yang baru. Hanya saja dunia riset tersebut dikembangkan oleh Belanda. Mungkin perlu disampaikan bahwa pengembangan dunia riset di Indonesia itu lebih tepatnya dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Belanda ketika itu. Pernyataan ini sangat penting mengingat perbedaannya dengan situasi sekarang adalah perusahaan-perusahaan besar Indonesia tidak melanjutkan tradisi perusahaan Belanda tadi yaitu tidak membangun perusahaannya berdasarkan budaya riset yang terus dikembangkan.

 1 2 3 >  Last ›