KEMITRAAN DAN SOLUSI WIN-WIN
Pertanian sebagai Landasan Peradaban
R&D Sebagai Investasi Prioritas
PERKEBUNAN INTI-RAKYAT (PIR) GENERASI KE II:
Bangun Perusahaan Perkebunan Berbasis Masyarakat
The Legacy of the Past for Current Agriculture
Kelaparan dan Perubahan Budaya
GUREMISASI DAN SYARAF PSIKO-SOSIAL TRANSFORMASI INDONESIA
PERGULAAN INDONESIA AKAN DIBAWA KEMANA?
Searching For Hunger or Famine Solutions
Sawit, Sawah, dan Sejarah Masa Depan Indonesia
Agus Pakpahan, NSTITUTIONAL ECONOMIST
Menurut majalah Forbes edisi Desember 2011, di antara 40 orang terkaya Indonesia, paling tidak 10 orang mengusahakan kelapa sawit. Jadi, 1 di antara 4 orang terkaya Indonesia adalah pengusaha kelapa sawit. Dari sawah? Tidak ada. Yang merata dari sawah adalah petani gurem. Padahal makanan pokok kita orang Asia adalah nasi. Mengapa demikian dan apa implikasinya bagi sejarah Indonesia mendatang?
Pemerintah kolonial Belanda merancang Indonesia sebagai sumber pendapatan bagi Holland. Pembangunan pada zaman itu bukanlah untuk memperkaya, apalagi memerdekakan, Indonesia. Usaha perkebunan, mulai dari monopoli oleh VOC, Tanam Paksa oleh Pemerintah Kolonial, hingga Pengembangan Perkebunan Swasta Besar sejak dikeluarkannya Agrarischwet 1870, merupakan rancang bangun untuk mengeruk kekayaan Indonesia sesuai dengan perkembangan zamannya. Sebagai ilustrasi, hasil Tanam Paksa pada 1860 mencapai 32 juta guilder atau sekitar 78 persen dari total pengeluaran pemerintah Belanda pada saat itu (Thee). Kopi merupakan penghasil utama pada 1800-an, kemudian gula pada 1920-an, dan karet pada 1960-an.
untuk Artikel lebih lengkap, dapat klik link berikut : (link)
Sumber : Koran Tempo : edisi cetak, senin, 9 Januari 2012 Halaman A11

