.: Article :.
 1 2 3 >  Last ›
04 Februari 2020

Umumnya orang jijik jika berbicara mengenai lalat. Namun siapa sangka, lalat hitam (black soldier flies) memiliki peluang bioindustri yang masih terbuka lebar dan menunggu dikembangkan. Seperti yang diungkapkan oleh Komandan Black Soldier Flies (BSF), Agus Pakpahan saat Forum Diskusi “Prospek Bioindustri Maggot BSF dan Bioflok sebagai Sumber Pakan dan Pupuk” di Kantor Tabloid Sinar Tani, Kamis (07/8). Menurutnya, BSF bisa menjadi “obat” bagi bangsa tropika. Bukan sebagai penyembuh penyakit tetapi pencegah penyakit. “Lalat hitam ini bisa mengubah sampah organik dari peternakan, rumah tangga, pasar menjadi sesuatu yang lebih berguna. Dan sumber penyakit dari bangsa tropika datang dari sampah,” tukasnya.

04 Februari 2020

Industri pangan harus berkembang dan maju, tapi janganlah ia membunuh energi diri sendiri. Agus Pakpahan - Profesor Riset Bidang Ekonomi Pertanian; Ketua Umum PERHEPI 2000-2003; Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian 1998-2003; Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan dan Penerbitan, Kementerian BUMN 2005-2010; Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik 2010-2018 TABLOIDSINARTANI.COM - "Siapa yang lebih pintar, apakah ayam kampung atau manusia?", kakek saya bertanya. "Kalau manusia tidak mampu menghidupi dirinya dan anak-anaknya, maka ayam kampung lebih pintar dari manusia," kakek saya menjawab pertanyaannya sendiri. Begitulah cara kakek mengajari saya ketika saya diajak menemani beliau ke kebun atau ke tempat lain semasa saya masih kanak-kanak.

02 Desember 2014

Ribuan lalat memenuhi ruangan berbentuk rumah berukuran 7 meter x 7 meter setinggi 3 meter. Di depannya tertulis rearing house. Sebagian lalat hinggap di jaring-jaring sebagai dinding, sebagian lagi menghinggapi dedaunan pisang di ruangan itu. Itulah pasukan khusus lalat hitam pengurai sampah organik.

06 November 2014

Setelah tidak menjabat deputi bidang agroindustri di Kementerian BUMN, Agus memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan penelitian. ”Mungkin saya ini termasuk aneh. Sebab, latar belakang pendidikan saya manajemen sumber daya alam, tapi sekarang malah meneliti lalat,” katanya ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya di Jakarta pertengahan bulan lalu.

26 Februari 2013

Badan Pusat Statistik (BPS, 2004) menyatakan bahwa "selama tahun 1993-2003, banyaknya rumah tangga (RT) pertanian secara rata-ratameningkat sebesar 2,2 persen per tahun. Komposisi banyaknya rumah tanggapertanian di Jawa dan di Luar Jawa selama sepuluh tahun terakhir tidak banyakberubah.Persentase rumah tangga petani gurem terhadap rumah tangga pertanian penggunalahan meningkat dari 52,7 persen pada tahun 1993 menjadi 56,5% pada tahun 2003,mengindikasikan semakin miskinnya petani Indonesia. Perlu dicatat, selama periode1993-2003, kenaikan persentase rumah tangga petani gurem di Jawa jauh lebih cepat dari Luar Jawa"[1].

 1 2 3 >  Last ›